Senin, 26 Mei 2014

Cerita Ujian Akhir Semester

     Bangun yang sulit hari ini setelah 2 hari sebelumnya bangun sebelum ayam jantan melolong. Alarm peringatan UAS dan alarm rutin pun gagal bangunkanku di pagi buta ini. Rentetan kegiatan ku pun dimulai.
Ku buka soal UAS “Pengelolaan Pendidikan” tahun kemarin, menulis kisi-kisinya di pagi hari serasa aneh. Kenapa? ,,, karena serasa terlahir kembali sebab keacuhan ku pada kebudayaan malas-malasan sebelum UAS 4 tahun yang lalu ku patahkan.


Singkat cerita jam 8 pagi, saat mengerjakan UAS hanya +10% dari yang ku tulis tadi pagi muncul di permukaan kertas, sisanya seperti mencari kebenaran di atas kebenaran. Ah,… yang kulakukan saat UAS hanya mencari jawaban yang sekiranya pak Dosen anggap benar, sebagian yang lain yang mungkin ku ketahui. Ku contreng langsung jawaban yakin, dan ku bubuhi titik untuk jawaban yang ingin ku kaji kembali.


Di tengan UAS, pengawas berceloteh 
“Waktu mau hampir habis, nyontek saja lama ... apalagi jujur.  Kalian itu calon guru, kok gini?”

Kurang lebih seperti itu. Kalimat yang diucapkan tenang itu, tak diikuti teguran pada peserta UAS yang mencontek, dan dibiarkan begitu saja. Asalkan tenang, kerjasama pun tak jadi masalah. Tapi keadaan UAS itu tak buatku ingin mencontek, inilah salah satu hal yang masih aku banggakan semenjak SMK.

Detik-detik waktu habis, 5 butir soal pun tersisa. Semua ku isi, tak peduli ketelitian berkurang di saat-saat pikiran mengajak untuk segera selesai. Segera tersadar untuk fokus kembali, waktu pun berbicara bahwa UAS telah selesai. Tak sempat mengkaji kembali jawaban yang telah di bubuhi titik, tangan sigap pun segera menimpah jawaban dengan contrengan.

Satu UAS telah berakhir, tandai saat untuk bersiap hadapi UAS berikutnya. Hal biasa telah isi kesan hari ini. Tak ada yang luar biasa. Kembali teringat perkataan seorang teman
“Kalo jadi orang, jangan kelampau jujur … mencontek dalam ujian belum tentu hal yang tidak baik,  ditambah bisa membantu orang di sekitar kita. Jika nilaimu jelek, nanti kau akan nyesal sendiri”
Dia benar … temanku benar. Itu terbukti dengan IPK semester kemarin-ku dengan nasib “satu koma”. Tapi apa mau di kata, kebisaan saat ujian yang hanya ingin mengisi jawaban dengan otak sendiri seperti idiologi tak tebantahkan. Jika itu egois atau sombong, untungnya aku tak berpandangan seperti itu.
Jika mengisi UAS dengan otak sendiri adalah hal yang baik, sepertinya aku bisa menghargai orang yang mengisi UAS dengan bekerja sama adalah hal yang benar (#kmhntuelid).